Minggu, 23 Desember 2012

Panas Dingin Indonesia – Malaysia



Panas Dingin Indonesia Malaysia

Oleh: Ahmad Barjie B

Hampir setiap bangsa serumpun yang membentuk dua negara atau lebih selalu diwarnai hubungan yang tidak harmonis bahkan perang saudara. Amat banyak contohnya,  seperti India - Pakistan dan Bangladesh, Irak - Iran dan Kuwait, Korea Utara dan Korea Selatan,  Vietnam - Laos dan Kamboja, Serbia dan Bosnia Herzegovina, dan terakhir Sudan dan Sudan Selatan yang oleh barat diprovokasi dan dipisah menjadi dua negara.
Itu sebabnya sejumlah negara besar seperti RR Cina sangat kuat dan fanatik mempertahankan integritas wilayahnya. Menyusul Hongkong dan Makao yang sudah bergabung setelah terpisah sekian lama, Cina tetap mengupayakan agar Taiwan juga bersatu dalam Cina Daratan. Sampai kiamat, pemerintah Cina seperti tidak akan pernah mau melepaskan Taiwan dan sejumlah wilayah yang juga sering bergolak seperti Tibet dan Sinkiang (Uighur).
Hubungan Indonesia dengan Malaysia termasuk kategori ini. Sejak orde lama, kedua bangsa serumpun ini sudah ”bermusuhan”, bahkan terlibat peperangan yang disebut konfrontasi Indonesia - Malaysia. Presiden Soekarno memang berobsesi menyatukan kedua bangsa serumpun dalam satu negara: Indonesia Raya. Soekarno menuduh, Malaysia yang ingin berdiri sendiri sebagai antek kolonialisme Inggris dan Amerika, sehingga saat itu muncul slogan permusuhan: Ganyang Malaysia, Ganyang Nekolim (neo-kolonialisme-imperialisme).
Proyek Ganyang Malaysia ini rencananya ditangani oleh Angkatan V, yaitu lima juta rakyat akan dipersenjatai atas bantuan RR Cina, hal mana sangat ditentang oleh para jenderal TNI-AD. Belum kesampaian, proyek ini justru dimanfaatkan oleh PKI untuk persiapan kudeta G 30 S PKI 1965. Latihan semimiliter di sekitar bandara Halim semula dikira pembekalan untuk menghantam Malaysia, tak tahunya justru untuk membunuh para jenderal (Ahmad Yani cs).
Keinginan Soekarno agar di Malaysia Timur (Sabah dan Serawak) dilakukan referendum, supaya rakyatnya diberi kebebasan memilih ikut Indonesia atau Malaysia, juga ditolak Malaysia. Konon banyak rakyat Malaysia di Semenanjung Malaka, Sabah dan Serawak bersedia bergabung, karena sama seagama dan sama serumpun (Melayu). Tetapi elitnya tidak mau, mereka khawatir kalau bergabung hanya orang Jawa yang akan berkuasa. Hal ini menjadikan Soekarno makin marah, akibatnya permusuhan terus terjadi hingga akhir kekuasaannya.

Tetap Berlanjut
Dulu orang mengira, naiknya Pak Harto yang memilih merehabilitasi dan menormalisasi hubungan kedua negara, akan mengakhiri nuansa permusuhan. Prakiraan ini ada benarnya, karena di masa Pak Harto memang relasi kedua negara cukup bahkan sangat harmonis. Hal ini disebabkan Pak Harto sendiri merupakan presiden yang kuat dan disegani. Dia tidak banyak bicara, tetapi di balik senyumnya dunia menganggap Indonesia memiliki kekuatan. Orang Malaysia pun banyak belajar ke kita.
Sementara di Malaysia sendiri juga terjadi pergantian tampuk kekuasaan. Selepas Perdana Menteri (PM) Tun Abdurrahman yang bermusuhan dengan Soekarno, Malaysia dipimpin oleh sejumlah PM yang lebih bersahabat seperti Tun Hossein Onn, Tun Abdul Razak, Mahathir Mohammad dan seterusnya. Bahkan Mahathir sangat berteman baik dengan Pak Harto hingga akhir hayatnya.
 Tetapi belakangan, setelah turunnya Pak Harto, kembali nuansa perseteruan menyeruak. Penyebabnya sangat kompleks, mulai dari masalah perbatasan dan perebutan sejumlah pulau yang dipersengketakan seperti Simpadan, Ligitan dan Ambalat, pencuriaan ikan oleh nelayan Malaysia atau sebaliknya, masalah cukong kayu, hingga tenaga kerja. Tidak terhitung TKI kita yang tewas, dihukum, diusir dan dilecehkan di Malaysia. Belum lagi soal seni budaya yang juga diklaim Malaysia.
Terakhir isunya adalah penghinaan oleh mantan Menteri Penerangan Malaysia Zainuddin Maidin, terhadap mantan Presiden BJ Habibie yang dianggapnya pengkhianat bangsa, dan anjing imperialis barat karena bersedia melepaskan Timor Timur, yang itu berarti juga mengkhianati Pak Harto yang telah berjuang mengintegrasikannya dalam NKRI. Belakangan, Gus Dur juga menjadi objek cercaan Maidin atas pemikiran pluralisme agama yang tak saja ditawarkan Gus Dur di Indonesia juga Malaysia.
Hari-hari ini, walau SBY berkunjung ke Malaysia dan disambut dengan hangat oleh pemerintah setempat, bahkan diberi gelar Doktor Honoris Causa, nuansa perseteruan tetap ada. Lebih-lebih karena Zainuddin Maidin menolak minta maaf dan seolah merasa benar dengan tuduhannya yang menyakitkan dan berlebihan itu. Di televisi, anggota DPR Teguh Juwarno dan Maidin pun terlibat perang kata-kata.

Sikap Kita
Haruskah kita berperang dengan negara tetangga ini?. Tentu saja tidak perlu, karena tidak ada gunannya. Dilihat dari segi agama dan kedekatan teritorial, perang fisik kedua bangsa/negara sangat tidak menguntungkan.
Lantas bagaimana agar hubungan kedua negara tidak diwarnai suasana tegang?. Pertama, kita perlu memahami psikologis rezim penguasa setempat. Partai UMNO yang berkuasa puluhan tahun di Malaysia tidak menyukai adanya tokoh oposisi yang berpengaruh seperti Anwar Ibrahim.  Kenyataannya Anwar Ibrahim begitu diterima dan memiliki banyak sahabat di Indonesia seperti Akbar Tanjung, Amien Rais, BJ Habibie dan lainnya. Karena itu pertemuan Habibie – Anwar, meski atas undangan Anwar tetap saja disikapi dengan sebal oleh sebagian elit Malaysia. Tulisan Maidin yang menyerang Habibie sangat mungkin karena faktor ini, sebab dia salah seorang tokoh UMNO. Anwar menyebut sikap itu sebagai arogansi kekuasaan yang masih banyak menghinggapi elit pemerintah Malaysia.
Kedua, sependapat dengan Jusuf Kalla, kalau kita tak mau berperang, maka pernyataan keras di sebuah koran harus dibalas dengan pernyataan keras pula di koran yang sama. Pernyataan keras yang bersifat klarifikasi menjadikan tulisan yang bernada menghina itu akan kehilangan kredibilitas di mata publik pembaca Malaysia.
Ketiga, kita perlu memiliki persenjataan yang kuat, baik angkatan darat, laut maupun udara. Tujuannya bukan untuk beperang dengan Malaysia atau negara manapun, tetapi sebatas untuk menjaga kedaulatan dan harga diri bangsa. Mengapa AS begitu ditakuti dunia, padahal negaranya tak sebesar Cina, Rusia dan gabungan negara muslim, tentu karena power army AS yang belum tertandingi. Indonesia negara besar, tetapi alat utama sistem senjata (alutsista) lemah dan ketinggalan zaman. Negara-negara lain tahu itu, sehingga negara kita kurang disegani.
Keempat, keberadaan TKI/TKW di luar negeri termasuk Malaysia sudah waktunya dikurangi. Banyaknya buruh migran, menjadikan mereka rentan pelecehan dan negara asal mereka (Indonesia) kurang dihormati. Anak saya sering berfisbuk dengan orang luar negeri, ketika mengenalkan diri dari Indonesia, mereka bilang: Oh, Indonesia yang negerinya para PRT itu ya, katanya. Jadi ada stereotip yang merugikan.
Sudah waktunya pemerintah, pengusaha dan segenap pihak membuka lebar peluang kerja dan usaha, agar kecenderungan mencari kerja di luar negeri berkurang. Hanya sektor yang padat teknologi saja, sehingga orang kita yang ahli lebih aman, terjamin dan terhindar dari pelecehan. Tak mungkin Indonesia yang begitu luas dan kaya tak mampu memberi makan rakyatnya sendiri. (Banjarmasin Post, 24 Desember 2012).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar