Jumat, 19 April 2013

Budaya Dayak dalam NKRI



Budaya Dayak dalam NKRI

Oleh: Ahmad Barjie B
(Pemerhati Budaya Banjar dan Dayak)
Pada minggu terakhir bulan April ini diadakan Pekan Budaya Dayak 2013. Aruh ganal budaya Dayak kali ini dipusatkan di Istora Bung Karno Jakarta. Ambil bagian tidak hanya Provinsi Kalimantan Tengah, juga Kalimantan Selatan, Timur dan Barat, sebab di empat provinsi ini populasi Dayak sangat besar dan dominan.
Keempat gubernur, yaitu Agustinus Teras Narang (Kalteng), Rudy Ariffin (Kalsel), Awang Farouk Ishak (Kaltim) dan Cornelis (KaIbar) sudah pula tampil dalam Talk Show di sebuah stasiun televisi nasional belum lama tadi.
Menurut Teras Narang, Pekan Budaya Dayak ini tidak dilaksaanakan di Kalimantan melainkankan di Jakarta, karena Dayak merupakan bagian integral dari NKRI. Dayak ingin agar masyarakat lintas etnis, budaya dan agama dalam skup nasional bahkan regional dapat mengenal budaya Dayak lebih dekat.
Dengan begitu beragam nilai, keadaan, perkembangan dan progress yang dicapai masyarakat Dayak diketahui lebih luas. Kesalahpahaman dan stereotip tertentu yang mungkin selama ini masih dilekatkan kepada masyarakat Dayak dapat dihilangkan.

Kaya Kearifan
Budaya mencakup unsur yang sangat luas, baik fisik maupun nonfisik. Tulisan ini hanya menyentuh sebagian kecil saja.
Sebagai orang Banjar yang berasal dari Kelua-Tabalong dan berbatasan dekat dengan Kalimantan Tengah, sejak kecil saya sudah bersentuhan dengan budaya Dayak. Bahkan ayah saya seorang pedagang kecil, lebih lancar berbahasa Dayak (Ma’anyan) ketimbang bahasa Banjar dan Indonesia.
Ada beberapa unsur budaya Dayak yang setahu saya sangat menarik. Umumnya  masyarakat Dayak sangat gandrung kepada pendidikan sebagai sarana untuk menggali ilmu pengetahuan. Rata-rata anak Dayak rajin bersekolah hingga setinggi mungkin.
Dulu, meskipun  dengan sepeda butut, mereka gigih bersekolah dengan jarak tempuh berkilo-kilometer. Seiring dengan kesejahteraan yang meningkat tentu keadaannya sudah berubah. Tetapi produk kesungguhan anak-anak Dayak menuntut ilmu sungguh luar biasa. Kini.banyak posisi penting khususnya di tiga provinsi di luar Kalsel banyak diduduki oleh para putra Dayak. Di Universitas Palangka Raya (Uniraya) dan perguruan tinggi lainnya di Kalteng dan Kalbar banyak diisi oleh para doktor, profesor dan magister yang notabene putra Dayak asli.
Keadaan ini agak berbeda dengan etnis Banjar. Ada kecenderungan orang Banjar lebih senang bertani dan berdagang ketimbang sekolah. Menuntut ilmu tinggi bagi orang Banjar masa lalu dianggap sia-sia, membuang duit saja, lebih baik dijadikan modal berdagang.
Akibatnya, orang Banjar memang banyak menjadi pedagang, dengan taraf ekonomi yang lumayan. Tetapi mereka cenderung berjalan di tempat, kurang mampu menguasai sektor-sektor strategis bahkan di banua Banjar sendiri. Kualitas SDM orang Banjar dengan indikator utama pendidikan dan penguasaan iptek, relatif rendah dibanding provinsi lain.    
Masyarakat Dayak masih kuat memegang adat istiadat warisan leluhur, baik yang bersumber dari ajaran agama yang diyakini maupun nilai-nilai adiluhung produk masa lalu. Banyak persoalan dapat diselesaikan secara adat, dan mereka sportif dalam menerima putusan adat.
Sebagai contoh, ketersinggungan masyarakat Dayak terhadap pernyataan sosiolog Dr Thamrin Amal Tamagola terkait kasus asusila Ariel Peterpan, dapat diselesaikan secara adat. Masalah itu dianggap selesai, setelah Thamrin bersedia memenuhi sanksi adat berupa kewajiban membayar denda 500 kg gerantung (gong) dan menanggung biaya Rp 77.777.000,- untuk pelaksanaan sidang adat Dayak Maniring Tuntang Manetes Hinting Bunu.
Penyelesaian masalah secara adat begini lebih baik, ketimbang misalnya diselesaikan secara hukum formal yang belum tentu memuaskan para pihak, apalagi kalau sampai menimbulkan konflik dan anarkisme.
Sportivitas masyarakat Dayak dalam berhukum secara adat, pernah pula terjadi dalam konteks Kesultanan Banjar tempo dulu. Diceritakan, karena kesalahpahaman Sultan Suriansyah pernah membunuh Uria Rin’nyan, adik Uria Mapas, seorang pemimpin suku Dayak di Dayu (kini wilayah Barito Timur).  Sebagai sanksinya, Sultan terkena sanksi adat bali, yaitu harus menyerahkan anaknya sendiri sebagai ganti orang yang dibunuh. Maka Sultan Suriansyah pun menyerahkan anaknya Mayang Sari, hasil perkawinannya dengan Norhayati, putri Labai Lamiah yang juga tokoh Dayak muslim.
Mayang Sari bukannya disakiti dan disia-siakan, justru dijadikan adik angkat Uria Mapas dan diangkat sebagai pemimpin etnis Dayak setempat. Jadilah Mayang Sari sebagai pemimpin wanita yang adil dan bijaksana. Makam Mayang Sari di Jaar Sangarasi dibangun cukup bagus oleh Pemkab Barito Timur sebagai penghormatan sekaligus perlambang persaudaraan yang mesra antara Banjar dengan Dayak.
Penyelesaian secara adat begini juga hidup di kalangan suku Banjar. Menurut Sultan Banjar H Khairul Saleh, UU Sultan Adam mewasiatkan agar persoalan pidana, perdata, sosial, ekonomi, pertanahan dan sebagainya kalau bisa diselesaikan dengan baparbaik, bapatut, baishlah/berdamai, karena kadang hasilnya lebih memuaskan. Budaya begini patut dilestarikan, sebab hukum nasional pun pada dasarnya bertolak dari hukum adat, hukum agama dan hukum warisan Belanda.

Masyarakat Terbuka
Masyarakat Dayak sangat bersahabat dengan alam, karena kehidupan mereka juga banyak berusmber dari alam. Kemaksiatan dianggap mencederai alam, dan kerusakan alam merupakan bencana. Di tengah derasnya arus eksploitasi terhadap alam saat ini, komitmen Dayak terhadap lingkungan hidup perlu kita teladani.
Dayak juga dikenal terbuka terhadap pendatang dari luar. Sepanjang bersikap adaptabel, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, tidak ingin berkuasa secara politis, sosial dan ekonomi, masyarakat mana saja diterima dengan senang hati. Betapa gigihnya masyarakat Dayak berjuang bahu membahu dengan pejuang Banjar dalam perang Banjar Barito menunjukkan betapa mereka ingin hidup merdeka dan bermartabat.
Sangat banyak nilai budaya lokal Dayak yang potensial dijadikan kekayaan budaya nasional. Budaya Dayak inklusif dan ikut menopang budaya Nusantara. Selamat menyukseskan Pekan Budaya Dayak 2013.
(Banjarmasin Post, 20 April 2013).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar