Sabtu, 15 Maret 2014

Banjarku Banjarmu Jua



Banjarku Banjarmu Jua

Oleh: Ahmad Barjie B

            Ketika kita memasuki Kota Banjarmasin lewar darat, di kiri kanan pintu gerbang kota Jalan Jenderal Ahmad Yani km 6 tertera tulisan: ”Kami Himung Pian Datangan Sabarataan”.
            Meskipun tulisan ini berbahasa Banjar, tentu tidak semata ditujukan kepada para pendatang Banjar yang berasal dari Hulu Sungai. Tetapi mencakup di dalamnya semua pendatang, termasuk yang masuk Banjarmasin melalui laut dan pelabuhan Trisakti.
            Ungkapan yang lebih tepat ditulis pada acara undangan perkawinan dan sejenisnya tersebut mengesankan Banjarmasin siap menampung semua orang. Sebab “sabarataan” dalam bahasa Banjar berarti semuanya.
            Hal ini tentu agak ironis dan aneh, mengingat Banjarmasin sesungguhnya memiliki wilayah yang relatif kecil. Luasnya hanya sekitar 72 km persegi. Penduduknya tidak sampai satu juta jiwa, tetapi karena kecil, maka penduduk, jalanan dan bangunan terasa sudah sesak
            Ucapan selamat datang ini menunjukkan betapa welcome-nya daerah dan masyarakat Banjar, terutama yang ada di Kota Banjarmasin terhadap pendatang, dari mana, suku dan agama apa saja. Betapa orang Banjar sangat inklusif, bukan eksklusif dan protektif,
            Keterbukaan begini tentu juga dianut oleh sebagian daerah lain, karena hampir di semua kota besar dan kecil di Indonesia ini ada ucapan selamat datang demikian. Cuma di sebagian daerah ada nuansa ketidaktulusan menerima pendatang.
            Ibukota Jakarta misalnya, meskipun ada tugu Selamat Datang, tetapi di kota ini juga sejak lama beredar lagu “Siapa Suruh Datang Jakarta”. Setiap saat, terlebih menjelang mudik Lebaran, Pemprov DKI selalu berpesan agar warga DKI yang mudik tidak membawa serta anggota keluarganya ketika kembali ke Jakarta.

Sarat Problem
            Ada atau tidak ada ucapan selamat datang, orang pasti akan mendatangi suatu kota dan daerah untuk mengadu nasib dan memperbaiki taraf hidup. Terlebih bagi kota Banjarmasin dan Kalsel pada umumnya yang akhir-akhir ini mengalami kemajuan ekonomi yang pesat, mungkin karena adanya pertambangan dan perkebunan, serta stabilitas keamanan yang kondusif.
            Boleh jadi juga posisinya yang strategis dalam segitiga emas bersama Kalimantan Tengah dan Timur. Kalau di beberapa kota dan daerah kita agak kesulitan mencari mobil mewah, maka di Banjarmasin dan Kalsel begitu banyak. Orang Banjar terkenal memiliki selera Belanja dan gengsi tinggi. Jika di banyak daerah kita kesulitan mencari penjual pulsa telpon, di Banjarmasin justru begitu mudah. Bagi orang Banjar bayi dan anak ingusan saja sudah pegang hape.              
            Keterbukaan kota Banjarmasin tentu membawa banyak konsekuensi, baik pada ranah kehidupan sosial ekonomi, agama dan budaya. Investor makin banyak, pembangunan perumahan, pusat belanja, perhotelan dan sebagainya seolah tak pernah berhenti. Peluang usaha terbuka tetapi juga disertai persaingan semakin tinggi.
            Perlahan tapi pasti pasar-pasar tradisional dan usaha-usaha kecil akan makin terdesak dan kalah bersaing oleh usaha-usaha besar. Adanya usaha yang menggunakan bahasa yang bernuansa primordialisme, misalnya “ampun urang banua jua, ampun orang Banjar jua, asli Banjar” dan sejenisnya menunjukkan pemiliknya ingin agar orang Banjar lebih memprioritaskan berbelanja ke pasar, toko atau pusat belanja milik orang banua.
            Cara begini diperkirakan tidak akan manjur, sebab orang Banjar yang memiliki selera belanja tinggi, ternyata tidak fanatik dalam berbelanja. Siapa pun pedagangnya asalkan murah dan berkualitas, apalagi dengan pelayanan yang baik sebelum dan purnajual, ke sanalah mereka akan terus berbelanja. Biar sama-sama orang banua, jika merasa kecewa dan dirugikan, mereka akan jera seumur hidup.

Menjunjung Langit
Kita salut banyak warga Banjar yang walaupun bukan Banjar asli, tetapi sudah menyatu dan memiliki kecintaan yang besar terhadap banua Banjar. Bahkan lebih separoh atau seumur hidupnya sudah diabdikan terhadap Banjar. Kepada mereka ini tentu harus diberikan hak-haknya secara wajar dan adil, baik dalam usaha maupun karier. Tidak fair jika mereka tereliminasi hanya karena tidak lahir di sini.
Tetapi bagi pendatang baru, tetap perlu lebih adaptif. Meskipun Banjarmasin dan Banjar umumnya begitu terbuka, kita tetap berharap agar pendatang bisa menjunjung langit. Pada ranah agama dan budaya dengan menghargai nilai-nilai religiusitas masyarakat. Maraknya tempat-tempat hiburan malam dalam beberapa tahun terakhir, dengan konsumen utamanya orang Banjar sendiri, bukan orang asing, diperkirakan dikelola oleh pengusaha non Banjar. Hal-hal begini semestinya tidak dilakukan, sebab meresahkan para orang tua, melukai perasaan kaum ulama dan agamawan Banjar.
Pada ranah ekonomi, sekiranya suatu sektor usaha kecil sudah ada pelakunya, sebaiknya pedagang besar dan konglomerat tidak mematikannya dengan menghadirkan usaha-usaha besar yang menyedot masyarakat. Hal ini penting diingatkan kembali, sebab jika dibiarkan dapat menimbulkan kesenjangan dan konflik sosial. Peristiwa Jumat Kelabu 23 Mei 1996 silam dengan segala korban jiwa, harta benda dan pusat belanja, selain dipicu masalah politik, juga karena kesenjangan sosial dan persaingan tidak sehat.
Pada ranah lingkungan hidup pedagang dan pengusaha pendatang hendaknya turut bertanggung jawab memelihara dan melestarikannya.  Para pengusaha rumah makan, kios makanan dan rombong yang berjejer di tepi jalan besar dan kecil hendaknya tidak membuang sampah dan limbahnya sembarangan sehingga merusak keindahan, mengotori lingkungan dan sungai. Aturan dan upaya penertiba dari Satpol PP hendaknya ditaati untuk kenyamanan bersama.
Walikota Banjarmasin 2003-2005 Drs H Midpai Yabani MM bersama jajaran Pemko Banjarmasin pernah kecewa kepada beberapa pemilik ruko, toko dan pedagang yang tidak memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar. Mereka acuh tak acuh dan hanya menonton ketika aparat pemerintah bekerja. Midpai pun kesal: “Jangan hanya berusaha dan mencari hidup di Banjarmasin, tapi tak mau memelihara kebersihan, kelestarian dan keselamatan lingkungan”, semprot walikota.
Dalam skup besar, masyarakat Banjar di Kalsel sekarang juga sedang gelisah oleh tingginya tingkat kerusakan alam disebabkan pertambangan, baik yang legal maupun ilegal. Sementara rakyat banyak belum menikmati hasilnya kecuali segelintir saja. Reklamasi yang sudah dilakukan konon baru 2 %.
Kalau angka ini benar, berarti banyak pengusaha yang hanya mencari kekayaan di banua Banjar tanpa menghiraukan kerusakan yang rentan mendatangkan bahaya lingkungan hidup. Ketika banjir dan bencana alam tiba, mereka tinggal angkat kaki dan koper. Sementara rakyat mau lari ke mana.
Kita ingin banua Banjar dijadikan sebagai rumah bersama semua orang. Banjar asli atau pendatang, semua menjaga dan membangun Banjar dengan tanggung jawab dan rasa memiliki yang tinggi.  Banjar ini Banjar kita juga.

                                                                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar