Sabtu, 15 Maret 2014

Tentang Profesor Rhoma Irama



Tentang Profesor Rhoma Irama

Oleh: Ahmad Barjie B

        Keperluan apakah biasanya orang cenderung menyebutkan gelar akademik atau kesarjanaannya?. Kalau  dijawab ketika menulis di koran atau buku jelas salah, sebab banyak penulis tidak mau menyantumkan gelar akademiknya, kecuali yang baru memperoleh gelarnya. Bahkan salah satu ketentuan penulisan ilmiah; makalah, skripsi, tesis dan disertasi, gelar akademik penulis buku tidak perlu dicantumkan.
            Kalau jawabannya ketika membuat kartu undangan perkawinan, jawabannya bisa ya dan tidak. Memang sering terjadi pasangan menyebutkan titelnya jika mempelai pria dan wanita sama-sama punya titel. Sering pula keluarga yang turut mengundang disebut semuanya lengkap dengan titelnya yang berjejer. Tetapi tidak sedikit orang dalam mengundang juga enggan menyertakan gelarnya, mungkin bagian dari sikap tawadlu, rendah hati,
            Apalagi ketika  upacara kematian, si mati jelas tidak akan mencantumkan gelarnya, sebab setinggi dan sepanjang apa pun gelar kesarjanaannya, tidak lagi berguna. Yang mencantumkan paling keluarga atau pihak lain yang bersimpati.
            Kondisi dan keperluan di mana orang-orang hampir pasti menyebutkan gelar akademiknya adalah ketika mencalonkan diri sebagai calon legislatif dan/atau kepala daerah. Dalam kondisi begitu nyaris tidak ada orang yang menyembunyikan titelnya.
            Apakah gelarnya diperoleh melalui kuliah reguler, eksekutif, bahkan tak mustahil cara instan, semua ditampakkan. Hal ini terlihat dari spanduk, baliho, kartu nama dan sebagainya menjelang Pemilu ini, hampir selalu ada gelar yang menyertai. Kalau di zaman dulu orang meyakinkan masyarakat pemilih dengan pengabdiannya, kini kalau bisa lewat gelar dan tampilannya.

Profesor Rhoma
            Begitu juga halnya dengan Rhoma Irama. Selama ini nyaris tak ada orang, termasuk dangdut mania sekalipun, yang tahu bahwa Raja Dangdut ini diberi gelar Profesor. Ternyata di musim Pemilu dan menjelang Pilpres ini muncul nama Profesor Rhoma Irama.
            Di salah satu kawasan Jakarta Selatan, dan mungkin ada juga di tempat lain, terpampang baliho bertuliskan “Profesor Rhoma Irama, Presiden Kita Bersama”.  Baliho tersebut tentu dipasang oleh Tim Sukses Rhoma, yang sejak beberapa bulan terakhir membentuk posko Rhoma Irama for Republic Indonesia (Rifori). Bagi penggemar dan pengagumnya, Rhoma digadang menjadi salah satu kandidat Calon Presiden PKB, di samping Jusuf Kalla dan Mahfud MD.
            Kontan saja masalah ini menjadi kontroversi. Banyak pihak mengecam, mempertanyakan dan tak sedikit yang mendukung dan menganggap biasa. Kementerian Pendidikan Nasional sebagaimana dikatakan oleh Mendiknas M Nuh, mengaku tidak tahu kalau selama ini Rhoma diberi gelar profesor. Menurutnya seharusnya gelar itu diuji dan disetarakan dulu di Indonesia. Jika memenuhi syarat barulah diakui.
            Selama ini untuk memperoleh gelar profesor (guru besar), memang melalui prosedur yang lama dan panjang. Selain melalui kuliah reguler, juga yang bersangkutan memiliki karya ilmiah, pengabdian, mengajar, penelitian dan sebagainya.
           
            Rhoma sendiri dalam sebuah wawancara televisi mengatakan, gelar profesor itu sudah lama diberikan oleh American University of Hawaii, tepatnya Januari 2005. Tanpa diminta, dan tidak membayar sepeser pun, kala itu ada tiga profesor yang mendatanginya saat di Taman Mini, lalu memberikan gelar tersebut. Spesifikasi gelarnya adalah Professor in Music.
            Alasannya karena Rhoma telah mengabdi dan berkaya lama sekali dalam bidang musik, karyanya diakui dunia dan memberi banyak pencerahan. Karena di bidang musik, maka Rhoma merasa gelar yang diberikan padanya hal yang wajar saja sebagai apresiasi. Meski sudah lama, namun Rhoma sendiri tidak pernah memublikasikan, memakai dan menggunakan gelar itu untuk keperluan apa pun. Baru jelang Pilpres ini ada tim sukses yang memasangnya.       
            Bagi Ki Joko Bodo, gelar yang diberikan pihak luar kepada Rhoma dianggapnya wajar, setelah melihat pengabdian, reputasi, kapasitas dan polularitas Rhoma sebagai penyanyi dangdut. Seharusnya, menurut Ki Joko, yang memberi gelar itu adalah universitas  dalam negeri, bukan pihak luar.

Sebatas Penghormatan
            Gelar profesor yang disandang Rhoma sebaiknya dianggap sebagai dan sebatas penghargaan saja. Tidak perlu dikait-kaitkan dengan dunia perguruan tinggi, karena memang tidak berkaitan. Tidak perlu pula dipandang dari perspektif UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen.
            Di sini memang diatur, yang namanya profesor (guru besar) adalah orang yang mengajar di perguruan tinggi, dengan golongan pangkat tertentu, waktu yang lama disertai karya ilmiah/buku, penelitian, atau pengabdian pada masyarakat. Kalau parameternya UU maka penyandang gelar yang tidak sah dapat dikenai sanksi pidana kurungan 6 tahun dan/atau denda Rp 500 juta.
            Masalah gelar selama ini memang masih kontroversial, mulai dari orangnya hingga perguruan tinggi (PT) yang memberinya. Dulu Prof Dr Buya Hamka diberi gelar Doctor Honoris Causa oleh Universitas al-Azhar Mesir dan gelar Profesor oleh Universitas Moestofo Beragama Jakarta, orang tidak ribut. Itu karena baik Hamkanya maupun universitas pemberinya dikenal.
            Giliran Rhoma yang diberi gelar serupa orang ribut. Ini mungkin karena lembaga pemberinya, yang konon tidak terakreditasi, tidak dikenal. Terkait dengan Rhoma sendiri, kalau digelari Professor in Music tentu wajar saja, sebab reputasinya di bidang ini diakui luas dan tak tertandingi. Namun sebaiknya gelar itu jangan profesor, cukup misalnya King of the King dan sejenisnya seperti disandang King of Pop mendiang Michael Jackson.
            Tetapi di Indonesia tak cuma itu persoalannya. Ada orang yang lama dan lelah kuliah di sebuah PT Islam Timur Tengah, tapi gelarnya tidak diakui, sementara temannya yang lain di PT yang sama tidak dipersoalkan memakai gelarnya. Jadi mana yang benar, apakah hebat kita dalam negeri atau luar negeri.
            Daripada terbelit kontroversi, sebaiknya menjauhi hal-hal kontroversial. Meski elektabiltasnya menurut survei turun naik, Rhoma merupakan kandidat Capres paling populer. Bocah ingusan hingga kakek sepuh kenal dengannya. Biasanya di negeri ini popularitas berbanding lurus dengan elektabilitas. Asalkan popularitas itu murni alami, tidak dipaksakan sementara sang pemimpin belum teruji berhasil memimpin.
            Tim sukses Rhoma sebaiknya menggunakan kapasitas Rhoma sebagai pedangdut, ulama, dan tokoh publik saja. Karena di ranah itu pun penggemarnya sangat banyak dan potensial. Tak perlu diberi embel profesor segala, karena bisa kontraproduktif. Di tengah persaingan ketat, hal-hal begini bisa jadi pintu masuk orang saling menjatuhkan.


           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar