Jumat, 15 Agustus 2014

In Memoriam KH Tahsyamani Baderun BA

In Memoriam KH Tahsyamani Baderun BA

Lebih Setengah Abad Bergelut
di Dunia Dakwah

Oleh: Ahmad Barjie B

            Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 2 April 2014 M / 2 Jumadil Akhir 1435 H masyarakat di Kota Banjarmasin dan sekitarnya kehilangan salah seorang ulama dan dai yang cukup terkenal, yaitu KH Tahsyamani Baderun. Karena di hari itu Rabu,  sekitar pukul 10.45 beliau dipanggil ke hadirat Allah swt, setelah dalam tahun-tahun terakhir ini sering keluar masuk rumah sakit, rawat inap dan rawat jalan.
            Begitu mendengar ulama kelahiran Banjarmasin 73 tahun lalu itu meninggal, banyak kalangan berdatangan ke rumah duka, baik dari kalangan ulama dan ustadz, tokoh dan warga masyawakat, juga murid-murid beliau. Mereka mendoakan, ikut menshalatkan dan mengantarkan ke kubur.
            Namun banyak pula kalangan yang tidak tahu atau terlambat  tahu. Oleh karena itu penulis memandang perlu menurunkan tulisan ini, sebagai upaya untuk mengenang sekaligus mengambil pelajaran dari kehidupan beliau yang sarat dengan perjuangan dakwah.
            Datuk Tombak Alam menyatakan, hal-hal yang sering dialami dunia dakwah adalah, pertama adanya yang meninggal, kedua ada yang meninggalkan dan ketiga ada yang ditinggalkan. Ulama dan juru dakwah yang meninggal, yaitu wafat atau meninggal duna, sebagaimana dialami oleh KH Tahsyamani Baderun.
            Meninggalkan, artinya banyak orang yang mampu dan tahu ilmu agama, tetapi enggan menjadi juru dakwah sebab memilih profesi lain yang lebih menjanjikan di segi materi. Ditinggalkan, artinya dakwahnya sudah ketinggalan zaman atau juru dakwahnya tidak konsisten menjalankan ajaran agama yang disampaikannya, sehingga masyarakat menjauhinya.

Berdakwah sejak muda       
            Menurut Ustadz M Rahimi HT salah seorang putra almarhum yang menyusun buku Biografi (Manaqib) ayahnya, Guru Tahsyamani, atau biasa pula dipanggil Guru Tatah,  lahir di Kampung Parodan Sungai Jingah Ulu Banjarmasin pada 11 Februari 1941. Ayah beliau bernama KH Baderun bin Sulaiman, juga seorang ulama dan masih zuriyat dari ulama besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
            KH Baderun salah seorang murid dari Tuan Guru Syekh H Jamaluddin Arsyad yang sering dijuluki dengan Tuan Guru Surgi Mufti yang makam/kubahnya ada di Surgi Mufti dan hingga kini masih sering diziarahi orang.  
            Semasa kecil Tahsyamani selain beroleh pendidikan agama dari lingkungan keluarga, juga menempuh pendidikan dasar. Mulanya sekolah SR di Simpang Sungai Bilu (sekarang SDN Melayu 6), kemudian melanjutkan ke SMIP 1946 yang didirikan oleh KH Muhammad Hanafi Gobet, yang berlokasi di Jalan Masjid Jami Kelurahan Surgi Mufti sekarang.
            Beberapa teman seangkatan beliau di sekolah ini seperti KH Ibrahim Nadjam, Drs. H Abdurrahim Yasin Lc. Di antara teman-teman senior adalah Drs. H Bakhtiar Effendi, Drs. HM Asy;ari MA dan Prof Dr H Alfani Daud (keduanya mantan Rektor IAIN Antasari). Kebanyakan teman seangkatan dan senior beliau juga sudah almarhum.
            Selanjutnya Tahsyamani menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri (yang kemudian menjadi PGAN Mulawarman). Selanjutnya kuliah di Fakultas Syariah IAIN Antasari Banjarmasin dan berhasil mencapai gelar Sarjana Muda (Bachelor of Art/BA).
            Bersamaan dengan kegiatan menuntut ilmu, KH Tahsyamani menjadi guru PNS. Mulanya mengajar di Madrasah Taman Pemuda Islam di Jl Keramat Banjarmasin, sebuah madrasah yang sudah berdiri sejak zaman Belanda 1927,  dan diberi nama Syubban School. Pada masa kemerdekaan madrasah ini berubah nama menjadi Raudhatus Syubbanil Muslimin atau Taman Pemuda Islam.
            Beliau diangkat menjadi PNS oleh Kantor Kementerian Agama Kota Banjarmasin sejak.1962 dan pensiun tahun 1996 dalam usia 55 tahun. Kebiasaan sebagian PNS kala itu, kalau pensiun akan digantikan oleh anak-anaknya, namun beliau menolak. Almarhum menyuruh anak-anaknya berwiraswasta saja,  atau kalau menjadi PNS harus berusaha sendiri, tidak meneruskan pensiunnya orang tua.
            H Tahsyamani menjadikan dakwah sebagai dunianya dan bagian hidupnya. Karena itu beliau berdakwah sejak usia masih sangat muda. Hingga meninggalnya tidak kurang dari 54 tahun beliau menggeluti dunia dakwah dengan segala suka dukanya.
            Berdasarkan catatan  ada seratusan masjid yang pernah beliau berikan khutbah Jumat secara rutin serta khutbah hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Beliau juga mengasuh majelis taklim sampai 20-an tempat, baik di masjid-masjid, maupun langgar/mushalla. Tersebar di Kecamatan Banjarmasin Barat, Timur, Tengah, Utara dan Selatan dan sekitarnya.
            Beliau sangat sering dimintakan untuk berceramah agama oleh masyarakat dalam berbagai acara, seperti peringatan hari-hari besar Islam, aqiqah/tasimiyah, pernikahan, dan kegiatan keagamaan lainnya. Dalam berceramah beliau sering mendatangi permintaan masyarakat sampai ke pedalaman, baik di Kalsel maupun Kalteng. Tidak jarang beliau sakit karena kelelahan berdakwah, bahkan pernah juga terjatuh dari kendaraan karena sulitnya medan yang ditempuh. Prinsip beliau: “Aku tidak akan mau berhenti berdakwah sampai aku tua renta sekalipun kecuali bila umurku sudah habis atau aku meninggal dunia”.
            Salah satu kelebihan gaya dakwah Tahsyamani, suara beliau jelas, terang, nyaring, tegas, dan berani, namun juga disertai dengan humor-humor, sehingga terasa segar dan tidak membosankan bagi pendengar. Sekali orang mengundang, biasanya akan memintanya lagi. Saat berceramah beliau sering memakai kacamata hitam. Beliau juga tidak pamrih dalam berdakwah. Semua dijalankan dengan tulus sebagai kewajiban agama.
            Sewaktu H Tahsyamani masih sehat walfiat, Masjid at-Taqwa Banjarmasin di mana penulis menjadi salah seorang pengurus, sering sekali meminta beliau baik untuk berkhutbah Jumat dan Hari Raya, juga ceramah/kuliah Subuh di bulan Ramadhan. Kalau sudah Guru Tahsyamani yang memberikan kuliah, jamaah biasanya lebih banyak, dan mereka tidak akan beranjak sebelum ceramah selesai karena merasa rame sekaligus beroleh ilmu dan pelajaran berharga.
            Berrsamaan dengan keaktifannya berdakwah beliau juga memiliki keahlian di bidang Alquran, karenanya sering dimintakan menjadi hakim MTQ dan sejenisnya. Juga  keahlian dalam membimbing ibadah haji dan umrah, sehingga sering ditugaskan untuk memberikan bimbingan kepada jamaah, baik oleh pemrintah maupun swasta.

Amalan dan sifat utama
            Meskipun memiliki volume dakwah yang padat dan jam terbang yang tinggi, Tahsyamani tidak melupakan amalan-amalan sunat yang bersifat pribadi. Di antara amalan beliau adalah shalat tarawih, tahajud dan witir di bulan Ramadhan, shalat Dhuha terutama di pagi Jumat, shalat sunat rawatib,  shalat taubat, tasbih dan hajat di malam hari terutama setelah shalat Maghrib, dan shalat sunat lainnya. Juga rajin membeca Alquran setelah selesai shalat fardlu, senang melaksanakan puasa sunat, senang bersederkah dan berinfak.
            Beliau seorang yang taat kepada kedua orang tua dan menyayangi anak-anaknya, rajin menuntut ilmu sejak muda hingga tuanya, suka berslaturahim dan menghadiri undangan perkawinan di mana saja. Tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah, selalu optimis dan pantangan menyerah dalam memperjuangkan dakwah.
            Kini KH Tahsyamani baderun telah tiada. Kita harapkan penerus dakwah terus bermunculan, baik dari lingkungan keluarga, murid dan masyarakat pada ummnya. Patah akan tumbuh lagi dan hilang tetap berganti. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Penulis buku “Mengenang Ulama dan Tokoh Banjar”, dukungan Kesultanan Banjar.    
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar