Senin, 17 September 2012

Artis, Lagu dan Ketersinggungan Agama


Artis, Lagu dan Ketersinggungan Agama

(Banjarmasin Post, 18 September 1998)

Penyanyi, fotomodel dan artis sinetron Desy Ratnasari belum lama ini menyampaikan permohonan maafnya kepada umat islam, termasuk para ulama, atas lagu Takdir yang terlanjur dinyanyikannya dan kasetnya sudah beredar di pasaran. Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Ketuanya Prof. KH. Ali Yafie setelah mendapat protes dari anggota masyarakat, meminta agar lagu ciptaan Chossy Pratama itu ditarik dan direvisi, dan pihak produser pun cepat menanggapinya.
Memang di antara syair lagu ada kalimat ”takdir sungguh kejam”, dan inilah yang menjadi pemicu kontroversi, karena dianggap dapat mengganggu dan tidak sejalan dengan akidah islamiyah. Desy yang mengaku masih awam dalam ilmu agama sekaligus menyatakan permohonan ampun kepada Allah, dan berjanji untuk lebih korektif dan teliti di kemudian hari.
Peristiwa seperti ini sebenarnya bukan baru. MUI Sumatera Barat juga pernah melarang tembang tradisional berjudul ”Senja di Surau Tuo”. Isi dan syair lagu ini juga dianggap tidak sesuai syariat islam, sebab mengisahkan seseorang yang menyanyikan lagu kerinduan cinta di senja hari di surau (musholla) tua, suatu hal yang tidak lazim dalam kehidupan umat Islam.
Sama namun tidak serupa, sejumlah ulama dan kiai Kabupaten Purworedjo Jawa Tengah juga pernah meminta pelarangan ”Tari Ndolalak” yang akan dimasukkan dalam kurikulum sekolah dan sudah memasyarakat di daerah setempat, yang biasanya digelar jika ada orang punya hajat. Tari ini, menurut salah seorang dosen Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta. Sri Sudiyati, merupakan akulturasi antara dansa dan seni tradisional, juga campuran antara tarian jawa dan silat.
Semula orang-orang Belanda menyanyi dengan tarian serupa yang berisi syair-syair lagu kerinduan kampung halaman, sambil berdansa dan mabuk. Masyarakat setempat kemudia mengadopsinya dengan mengganti syairnya dengan shalawat dan puji-pujian atas Nabi Muhammad yang sudah menjiwa di kalangan masyarakat. Mulanya penyanyi dan penarinya laki-laki dengan pakaian wajar dan sopan. Tapi kemudian berkembang dan dinyanyikan oleh gadis-gadis belia berpakaian celana pendek ketat di atas lutut. Dibarengi gerakan meliuk-liuk, jadilah kesenian ini menjadi erotis dan sensual. Hal inilah yang menjadi kontroversi sampai diprotes para ulama, karena dianggap haram dan berpengaruh negatif terhadap generasi muda.

Beralasan

Adanya protes dan pelarangan terhadap suatu karya seni, karena dianggap menyinggung agama, pada dasarnya wajar saja. Karena betapa pun, sasaran sebuah karya seni, apa pun namanya, tentu masyarakat Indonesia yang beragama.
Lagu ”takdir” misalnya, meski hanya satu kalimat yang agak mengganggu, tetap perlu direvisi. Dalam perspektif islam, percaya kepada takdir baik dan buruk merupakan salah satu rukun iman, yakni rukun keenam dari Arkanul Iman (Shahih Muslim 1:27). Menurut Diyaaddin Khalid al-Baghdadi (1989:59), the last of the six fundamentals of imaan is ’to believe in qadar (that is) that good (khair) and evil (sharr) are from Allah”.
Jadi takdir itu, baik atau buruk, semuanya sudah ditentukan Allah. Takdir baik seperti sehat, kaya, senang, bahagia, berkedudukan dan lainnya, atau takdir buruk seperti sakit, kematian, lapar, krisis ekonomi, putus cinta, menderita dan berbagai bencana, keduanya sama-sama merupakan cobaan Allah bagi orang-orang beriman, karena kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan di bumi dan kepada Dialah tempat kembali (QS Al-Baqarah: 155-6). Tidak  bisa takdir ini dianggap kejam, sebab ia berguna bagi manusia untuk mengetahui sejauhmana kualitas keimanannya, mana yang imannya merupakan emas murni dan mana yang tiruan dan sepuhan.
Untuk memahami semua ini, tentu diperlukan pengetahuan agama yang memadai. Karena itu kita salut kepada pencipta lagu, produsen dan penyanyi yang bersedia meralat dan menarik lagunya. Tentunya dengan konsekuensi sekian dana dan energi yang terbuang. Namun agar hal itu tidak terulang di kemudian hari, diperlukan kecermatan dari para pencipta lagu atau karya seni lainnya. Ada baiknya mereka berkonsultasi lebih dahulu dengan orang-orang yang tahu. Lembaga pengawas yang ada di Departemen terkait pun tentu harus mengawasi dan membina secara maksimal.

Kurang tersentuh
Meski adanya koreksi terhadap lagu-lagu tertentu merupakan indikasi masih adanya kepekaan dan ghirah (kecemburuan) beragama, namun kita menyayangkan masih banyak karya seni, khususnya lagu-lagu, yang sepertinya sudah lepas dari agama. Lagu dangdut, pop, rock dan lainnya sudah teramat banyak yang tidak begitu mengandalkan syair dan irama musiknya, tapi lebih menonjolkan keberanian penyanyi dan penari latar dalam berbuka-buka (paha dan dada).
Kalau dulu, keindahan sebuah lagu, lebih ditekankan pada syair dan irama, maka kini daya tariknya justru pada fisik penyanyi. Makin berani buka-bukaan, termasuk dalam hal ini produk sinetron, serial komedi situasi dan sebangsanya.
Jika kita mau jujur, bait syair yang tak sesuai ajaran agama, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui dan merasakannya. Tetapi lagu-lagu yang penyanyinya berani mengobral aurat, akan meracuni mental semua orang, semuanya tergoda. Dehumanisasi dan demoralisasi cepat atau lambat akan terjadi. Kehidupan akan berjalan semakin permisif.  Aurat wanita yang sangat sakral dan rahasia berubah jadi barang obralan yang diperjualbelikan. Mengapa ini tidak ditegur dan dilarang?
Alangkah baiknya jika anggota masyarakat, ulama, pemerintah, artis dan seniman mau memperhatikan hal ini. Meski ini soal klasik dan tak populer, tapi keengganan kita memperbaikinya bisa membahayakan generasi ke depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar