Senin, 17 September 2012

Guru dan Karya Tulis


Guru dan Karya Tulis

Oleh: Ahmad Barjie B

Sebuah media edisi 16 Juli 2012 memberitakan “Guru Wajib Bikin Karya Tulis”. Permenpan No. 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya menjadi dasar diwajibkannya guru menulis. Kalau dulu ketentuan ini berlaku untuk guru yang akan naik pangkat dari IVa ke IVb, kini dari IIIb ke IIIc. Menurut Ketua Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) Kalsel Muhammad Marwani, bentuk karya tulis dimaksud adalah artikel di koran dan karya ilmiah lainnya.
Media massa sudah sering menyoroti langkanya guru berkarya tulis. Hal ini menghambat peluang mereka menjadi guru berprestasi daerah dan nasional. Banyak guru juga kesulitan mencapai golongan pangkat tinggi karena terbentur masalah ini. Padahal bersama kualifikasi dan sertifikasi guru, kemampuan menulis tidak bisa diabaikan.
            Guru di Kalsel umumnya minim karya tulis, baik tulisan ilmiah populer di media massa, karya fiksi, laporan penelitian, apalagi buku. Sebenarnya guru berkarya tulis, termasuk buku, bukan mustahil. Buktinya, sejumlah buku ajar SD-SLTA karya para guru di Jawa. Mereka aktif mengajar dan produktif menulis.

Beberapa Kendala
Ada prakondisi dan kendala sehingga karya tulis guru langka dan kemampuan di bidang ini rendah. Budaya tulis di masa lalu kalah oleh budaya tutur. Banyak cerita rakyat dan ungkapan tradisional beredar dari mulut ke mulut, tanpa tahu siapa penulisnya. Ini berlanjut di tengah membanjirnya televisi dan internet, yang lahir filming society, bukan writing society.
Taraf hidup sosial ekonomi masyarakat, termasuk guru dulu relatif rendah karena gaji minim, fokus pikiran hanya mengajar dan mendapatkan penghasilan tambahan. Saren Kiergekaart mengatakan, primum vivere deinde philosophare (hidup dahulu baru berpikir). Menulis menuntut energi  ekstra, serius dan fokus, kurang kondusif jika pikiran kusut oleh urusan perut, kerja dan nafkah. Tetapi seiring membaiknya kesejahteraan guru dewasa ini, alasan perut tidak lagi tepat. Guru harus mencoba dan berusaha menulis. Kalau alasan ekonomi dan waktu terus dijustifikasi, sampai mati pun tidak sempat menulis.
Guru belum memahami tuntutan kompetensi secara komprehensif. Pasal 10 ayat (1) UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen menuntut empat kompetensi guru: kompetensi kepribadian berupa akhlak dan moral terpuji agar bisa diteladani; kompetensi profesional berupa kemampuan menguasai materi pelajaran secara luas dan mendalam; kompetensi paedagogis kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik; dan kompetensi sosial ditandai kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi dengan kalangan eksternal, termasuk masyarakat.
Guru hakikatnya mendidik dan mengajar di sekolah dan luar sekolah. Lewat karya tulis guru menuangkan aspirasi dan pemikirannya untuk perbaikan, pencerahan dan kemajuan peradaban. Belum bisa dikatakan guru seutuhnya jika hanya tenggelam dalam rutinitas mengajar di sekolah tanpa berkarya yang lebih bernilai abadi. Sesuai akar historis guru, yaitu Mpu atau Batara Guru. Tepat ungkapan, verba volent scripta manent, pembicaraan akan lenyap, tulisan akan abadi.
Faktor lain kurangnya motivasi eksternal. Lomba karya tulis yang digelar selama ini hadiahnya kecil, jauh beda dengan lomba lain seperti olahraga, seni, modeling dan kontes kecantikan. Guru yang berhasil membuat karya tulis belum beroleh penghargaan memadai. Kredit poinnya relatif kecil, padahal perjuangan menyelesaikan sebuah tulisan cukup berat, harus banyak membeli, membaca dan menelaah buku serta sumber informasi lainnya. Tulisan guru yang muncul di media massa juga kurang direspon atasan dan sesama guru. Kepala Sekolah cuek saja ketika ada anak buahnya menulis,.padahal untuk bisa dimuat juga berat. Mestinya dimotivasi agar guru-guru lain terangsang menulis.
Masih ada media yang  belum menghargai karya tulis. Ini menghambat motivasi menulis. Sebagian guru, bahkan guru besar dan pakar lebih senang berceramah dan mengisi seminar sebab insentifnya besar dan instant, ketimbang menulis yang belum tentu dimuat dan kalaupun dimuat ada yang tanpa honor.

Saran Masukan
Kalau selalu dicari, ada sederet alasan untuk tidak menulis. Tetapi alangkah bijaknya jika kita berusaha menulis, bagaimana pun caranya. Perlu ditanamkan motivasi internal, menulis itu penting bagi diri sendiri dan orang lain. Apalagi guru senior, tentu sarat pengalaman suka dan duka yang berguna bila mau berbagi cerita. Motivasi tidak harus berupa materi dan uang. Hindari suka melecehkan dan meremehkan karya orang. Cobalah menikmati tulisan sendiri dan orang lain, sehingga tumbuh rasa butuh dan apresiasi. Diharapkan, menulis yang semula beban berubah menjadi kebutuhan. Kalau sudah butuh, waktu menulis pasti akan ada. Umumnya penulis aktif karena kebutuhan, mereka menikmati relaksasi dan orgasme intelektual lewat tulisan. Terus membaca dan menulis membuat kita rendah hati, kita merasa bodoh karena begitu banyak yang kita tidak tahu. Malas membaca dan menulis, membuat kita seolah merasa pintar, padahal sebenarnya bodoh.
Banyak membaca memberi penguatan dan pengayaan ilmu. Membaca berbanding lurus dengan menulis. Jepang banyak menghasilkan karya tulis karena bangsa Jepang gemar membaca. Idealnya guru punya perpustakaan mini di rumah. Bacaan tidak terbatas materi ajar sekolah, juga masalah lain yang terkait atau dianggap penting untuk memperluas wawasan. Selama ini guru-guru minim yang mau berlangganan koran, majalah, jurnal dan membeli buku secara teratur dari uang sendiri. Bahkan buku gratis pun tidak dibaca optimal. Semakin banyak membaca otomatis mendorong menulis. Ibarat air yang dituang ke gelas, menulis adalah limpahan dari membaca. Pada saat sama guru perlu melakukan riset sederhana pada materi asuhannya. Hasil penelitian memotivasinya menuangkan dalam karya tulis.
Secara private guru-guru dapat belajar menulis pada siapa saja, tanpa perlu merasa malu dan terlambat. Sekolah dan dinas pendidikan hendaknya meningkatkan pelatihan tulis-menulis populer dan ilmiah, penelitian tindakan dan sejenisnya, dengan memanfaatkan SDM yang ada di kalangan guru maupun dari luar. Juga memiliki media sendiri yang dapat memfasilitasi karya tulis guru, yang diterbitkan mingguan, bulanan, dst. Menulis di media massa besar mungkin seleksinya ketat, media sendiri akan lebih memungkinkan. Kerjasama dengan media agar tulisan guru lebih diberi peluang juga penting.
Era otonomi dengan dana pendidikan yang meningkat, guru-guru hendaknya dirangsang menulis buku bernuansa kedaerahan dan difasilitasi penerbitannya. Tidak saja muatan lokal, juga mata pelajaran wajib dan pilihan. Misalnya sejarah, selama ini terlalu nasional sentris, sehingga sejarah lokal kurang terakomodasi. Buku-buku karya penulis daerah yang sudah ada perlu dijadikan bahan ajar. Diharapkan dunia penulisan dan perbukuan di daerah akan bersemangat.

Penulis freelance dan penulis buku, tinggal di Banjarmasin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar