Senin, 17 September 2012

Smile Train dan Gertasbal Bibir Sumbing


Smile Train dan Gertasbal Bibir Sumbing
Oleh: Ahmad Barjie B

Bibir sumbing (labioschisis) adalah cacat bawaan yang masih ditemui di banyak negara. Frekuensinya berbeda-beda pada berbagai budaya, ras dan negara. Diperkirakan 45% dari populasi adalah non-Kaukasia. Fogh Andersen melaporkan kasus bibir sumbing dan celah langit-langit di Denmark mencapai 1,47/1000 kelahiran hidup. Hasil yang hampir sama dilaporkan oleh Woolf dan Broadbent di Amerika Serikat serta Wilson di Inggris. Neel juga menemukan insiden 2,1/1000 penduduk di Jepang. Di Indonesia belum diketahui secara pasti, disebutkan terjadi satu kejadian setiap 1.000 kelahiran.
Jumlah  penderita bibir sumbing di Indonesia bertambah 3.000-6.000 orang setiap tahun atau satu bayi setiap 1.000 kelahiran. Data Yayasan Pembina Penderita Celah Bibir dan Langit-langit (YPPCBL) tahun 2008, sejak 1979 sampai 2008 operasi dan perawatan bibir sumbing mencapai 11.472 kasus di seluruh Indonesia atau 395 orang per tahun. Karena berbagai macam kendala, jumlah penderita yang bisa dioperasi jauh dari ideal. Hanya 1.000-1.500 pasien per tahun yang mendapat kesempatan menjalani operasi.

Lembaga Peduli
Menyadari masih banyaknya penderita, sejumlah hartawan dan dermawan di Amerika Serikat dan negara kaya lainnya membentuk lembaga sosial nonprovit bernama Smile Train. Lembaga ini mengemban misi melakukan gerakan penuntasan global (gertasbal) bibir sumbing.  Obsesinya  ”changing the world one smile at a time”.  
Organisasi ini tersebar di 160 negara, salah satunya Indonesia. Di negeri ini Smile Train sudah menjalin kerjasama dengan 60 buah rumah sakit pemerintah dan swasta, salah satunya RS Pahlawan Medica Center (PMC) Kandangan HSS pimpinan Dr Hartono Tenggono.  Menurutnya, Smile Train sangat peduli terhadap penderita bibir sumbing, dan ingin melihat semua anak penderita dapat tersenyum sehat. Tak hanya anak dan balita yang disasar, bahkan orang tua yang sudah di ujung usia pun diberi kesempatan untuk dioperasi agar bias pulih dari kecacatannya.
Smile Train bersedia mensupport dana 400 USD (+- Rp 3.800.000,-) per pasien. Dengan dana ini PMC Kandangan berani memberikan pelayanan secara gratis kepada setiap pasien, bahkan juga memberi biaya transportasi Rp 100.000,- per pasien.  Dokter ahli yang sering mengerjakan operasi adalah Dr Dharma dari Banjarmasin dan Dr Ramli dari Menado. Semua pasien dilayani tanpa persyaratan dan prosedur yang rumit, dan tanpa membedakan status sosial ekonomi, agama, suku, usia, jenis kelamin, golongan dan daerah asal.
Pasien tidak dipungut biaya apa pun. Menurut Dr Hartono, keluarga pasien hanya dituntut membayar ”utang”, berupa kemauan untuk menyebarkan informasi ini kepada tetangga dan masyarakat di mana saja. Keterbatasan media sosialisasi dan informasi, PMC meminta setiap keluarga pasien yang sudah ditangani berperan seperti multi level marketing, supaya semakin banyak orang tahu dan memperoleh layanan. Calon peserta dapat mendaftar langsung ke PMC Kandangan. Karena keseriusannya, PMC Kandangan berani memasang spanduk bahwa rumah sakit ini memberikan pelayanan gratis operasi bibir sumbing kerjasama dengan Smile Train USA.


Patut didukung
Adanya lembaga dan rumah sakit yang bersedia memberikan layanan gratis semacam ini patut didukung dan diinformasikan lebih luas. Dengan demikian, warga masyarakat, terutama kalangan kurang mampu memiliki banyak pilihan dalam merawat atau mengobati penyakit dan cacat yang diderita. Pertama, menggunakan fasilitas Jamkesmas/Jamkesda melalui RS milik pemerintah. Kedua, melalui bakti sosial instansi, perusahaan bahkan partai yang biasa menggelar kegiata sosial di hari ulang tahunnya atau jelang pemilu. Ketiga, melalui organisasi atau lembaga seperti Smile Train ini. Semua dapat saling mendukung dan melengkapi.
Operasi bibir sumbing tidak bisa dianggap ringan. Jika harus membayar mencapai Rp 9 hingga 16 juta per pasien. Angka ini tentu sangat berat bagi masyarakat kebanyakan yang berada dalam taraf ekonomi menengah bawah di mana penderita bubir sumbing banyak berasal.  Bibir sumbing memang cacat bawaan yang menjadi masalah tersendiri di kalangan masyarakat, terutama penduduk dengan status sosial ekonomi lemah. Akibatnya operasi sering dilakukan terlambat dan malah ada yang dibiarkan sampai dewasa (FK Bandung, 2010).
Berbeda dengan biaya sunatan (khitan) yang relatif murah, sekiranya orangtuanya istirahat merokok barang seminggu sudah bisa membayarnya. Sementara untuk operasi bibir sumbing jelas berat jika harus membayar. Tak heran ada keluarga pasien yang setengah tidak percaya ada jasa layanan operasi bibir sumbing gratis.
Apapun masalahnya, bibir sumbing harus kita terima sebagai sebuah fenonema sosial kesehatan. Keluarga harus menerima dengan lapang dada dan berusaha mencari solusi. Warga masyarakat hendaknya juga turut membantu baik informasi, pikiran, tenaga maupun dana, supaya tak ada penderita yang terpojok, malu dan merana dalam kesendirian.
Penyebab cacat ini multifaktorial, selain genetik juga terdapat faktor nongenetik dan lingkungan. Juga usia ibu waktu melahirkan, perkawinan antara penderita bibir sumbing, defisiensi Zn waktu hamil dan defisiensi vitamin B6.
            Kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa bibir sumbing muncul sebagai akibat dari kombinasi faktor genetik dan faktor-faktor lingkungan. Di Amerika Serikat dan bagian barat Eropa, para peneliti melaporkan bahwa 40% orang yang mempunyai riwayat keluarga labioschisis akan mengalami labioschisis. Kemungkinan seorang bayi dilahirkan dengan labioschisis meningkat bila keturunan garis pertama (ibu, ayah, saudara kandung) mempunyai riwayat labioschisis. Ibu yang mengkonsumsi alkohol dan narkotika, kekurangan vitamin (terutama asam folat) selama trimester pertama kehamilan, atau menderita diabetes akan lebih cenderung melahirkan bayi/ anak dengan labioschisis (FK Bandung, 2010).
            Mengantisipasi dan mengkaji bibir sumbing sama pentingnya dengan mencari dan memberikan solusi ketika bibir sumbing telah terjadi. Semoga ke depan semakin banyak penderita yang tertolong.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar